Rabu, 08 Februari 2017



Asuhan Keperawatan pada Ibu Hamil dengan Asma Bronkial  
Kasus ini diambil dengan persepsi pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama,bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Pengaruh asma pada ibu dan janin
sangat bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma,karena ibu dan janin akan mengalami hipoksia.Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan memberikan pengaruh buruk pada janin berupa abortus,persalinan prematurdan berat janin yg tidak sesuai dengan umur 
Asma bronchial merupakan penyakit pernapasan akut,yang disebabkan oleh allergen, oleh perubahan mencolok pada suhu lingkungan atau oleh ketegangan emosi. Pada banyak kasus, penyebab actual mungkin diketahui. Suatu riwayat alergi dalam keluarga dimiliki oleh sekitar 50 % individu dengan asma. Sebagai respons reaktivitas terhadap stimulus, jalan napas menyempit, sehi pngga mempersulit pernafasan. Manifestasi klinisnya adalah mengi pada ekspirasi, batuk, sputum yang kental dan dispneu.
Penyakit asma pada kehamilan kadang-kadang berat atau malah berkurang. Dalam batas wajar penyakit asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim melalui gangguan pertukaran gas oksigen dan carbondioksida. Pengawasan hamil dan pertolongan persalinan dapat dilakukan dengan operasi. 
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan yang sering dijumpai pada kehamilan, mempengaruhi 1-4% wanita hamil. Pengaruh keamilan terhadap timbulnya asma tidak selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak selalu sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurag dari 1/3 penderita asma kurang membaik dalam kehamilan lebih dari 1/3 akan menetap, kurang 1/3 lagi akan bertambah buruk pada serangan bertambah berat. Biasanya serangan akan timbul pada usia 24-26 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi ( Bobak, dkk.2004 ).
Sampai saat ini patogenesis maupun etiologi asma belum diketahui dengan pasti. Berbagai teori tentang patogenesis telah diajukan, tetapi yang paling disepakati oleh para ahli adalah yang berdasarkan gangguan saraf autonom dan sistem imun.
Penyebab asma pada kehamilan antara lain zat-zat alergi contohnya tepung, debu, bulu,infeksi saluran pernapasan,pengaruh udara misalnya terlalu dingin, terlalu panas, factor psikis misalnya kelelahan, stress.

Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas. Adanya inflamasi hiperaktivitas saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma alergi maupun non-alergi. Oleh karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai keadaan tersebut. Jalur imunologi utama didominasi oleh IgE dan jalur saraf otonom. Pada jalur IgE , masuknya allergen kedalam tubuh akan diolah oleh APC (Antigen Presenting Cells), untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan dikomunikasikan kepada sel T helper (T penolong). Sel ini akan memberikan instruksi melalui interleukin atau sitokin agar sel-sel plasma membentuk serta sel- sel radang lain seperti mastosit, makrofag, sel epitel, eosinifil, neotrofil,  trombosit, serta limfosit untuk mengeluarkan mediator-mediator inflamasi seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin (LT), platelet activating factor (PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan lain-lain akan mempengaruhi organ sasaran menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding vaskuler, edema saluran napas, infiltrasi sel-sel radang, sekresi mukus, dan fibrosis sub epitel sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran napas (HSN). Jalur non- alergi selain merangsang sel inflamasi, juga merangsang sistem saraf otonom dengan hasil akhir berupa inflamasi dan hiperreaktivitas saluran napas. Hiperreaktivitas saluran napas diduga sebagian didapat sejak lahir. Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas yaitu : inflamasi saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis, gangguan intrinsik, dan obstruksi saluran napas.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli asma kalifornia tahun 1983 pada 120 kasus asma pada ibu hamil yang terkontrol baik, tedapat 90% dari penderita yag tidak pernah mendapat serangan dalam persalinan, 2,2% menderita seragan ringan dan hanya 0,2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obatan intravena. Pengaruh asma pada ibu hamil dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen dan hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin yang sering terjadi keguguran, persalinan premature dan berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan atau gangguan perumbuhan janin.
Perubahan fungsi paru pada kehamilan meliputi 20% karena peningkatan kebutuhan oksigen dan metabolisme ibu, 40% peningkatan ventilasi semenit dan peningkatan tidal volume. Terdapat sejumlah perubahan fisiologik dan struktural terhadap fungsi paru selama kehamilan. Hiperemia, hipersekresi dan edema mukosa dan saluran pernapasan merupakan akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Pada uterus gravid terjadi peningkatan ukuran lingkar perut, diafragma meninggi, dan semakin dalamnya sudut antar kosta. Wanita hamil mengalami peningkatan tidal volume, volume residu, serta kapasitas residu fungsional, penurunan volume balik ekspirasi, sementara kapasitas vital tidak berubah. Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2  menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34 mmHg, yang biasanya terlihat pada umur kehamilan 12 minggu. Seperti yang diperkirakan, frekuensi terjadinya serangan eksaserbasi asma puncaknya pada umur kehamilan sekitar enam bulan, gejala yang berat biasanya terjadi antara umur kehamilan 24 minggu - 36 minggu.
Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:
1.      Kontraksi otot pada saluran napas meningkatkan resistensi jalan napas
2.      Peningkatan sekresi mukosa dan obstruksi saluran napas
3.      Hiperinflasi paru dengan peningkatan volume residu
4.      Hiperaktivitas   bronkial,   yang   diakibatkan   oleh   histamin,   prostaglandin   dan    leukotrin.
Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Perubahan fisiologis, yang diinduksi oleh kehamilan, tidak membuat wanita hamil lebih rentan terhadap serangan asma. Asma meningkatkan insiden aborsi dan persalinan premature, tetapi janin sendiri tidak terpengaruh. Pada kasus-kasus yang berat, asma dapat mengancam kehidupan wanita hamil. Pada kebanyakan kasus prognosis baik pada ibu dan janin
      Wanita hamil dengan asma berat atau dengan asma yang terkontrol buruk memiliki resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, perdarahan rahim dan komplikasi saat melahirkan serta pengaruh buruk pada janin seperti kematian perinatal ,pertumbuhan janin terhambat,kelainan congenital,lahir premature,berat badan lahir rendah,dan kekurangan oksigen
Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan asma bronchial meliputi pengkajian Identitas klien.Keluhan Utama pasien akan mengeluh sesak yang bertambah berat pada usia kehamilan 24-36 minggu.
Riwayat penyakit sekarang klien  dengan serangan asma datang mencari pertolongan dengan keluhan, terutama sesak napas yang hebat saat aktifitas dan tidak  beraktifitas,  mendadak kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain yaitu : Wheezing, Penggunaan otot bantu pernapasan, Kelelahan, gangguan kesadaran, Sianosis serta perubahan tekanan darah. Perlu juga dikaji kondisi awal terjadinya serangan.
Riwayat penyakit dahulu penyakit yang pernah diderita apakah penyakit asma ini baru pertama timbul atau sudah pernah terjadi dikehamilan yang terdahulu, pada masa-masa dahulu seperti infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asma frekuensi, waktu, alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asma (Tjen Danie l, 1991)
Riwayat kesehatan keluarga pada klien dengan serangan status asthmatikus perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitifitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik oleh lingkungan, (Hood Alsagaf, 1993)
Riwayat psikososial gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asma baik ganguan itu berasal dari  rumah tangga, lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja. Seorang yang punya beban hidup yang berat berpotensial terjadi serangan asma. yatim piatu, ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain sampai ketakutan tidak bisa menjalankan peranan seperti semula, (Antony Croket, 1997 dan Tjen Daniel, 1991)
Pernafasan pendek  khususnya saat aktivitas, sulit nafas, dada tertekan, penggunaan oksigen, riwayat pneumonia keluarga, menggunakan otot bantu pernafasan.
Dada saat inspeksi dapat dilihat hiperinflasi dengan peninggian diameter ap, gerakan diafragma minimal, bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi, ronchi, mengi, saat perkusi ditemukan hipersonor pada area paru, bunyi pekak pada area paru..
Pemeriksaan fisik pada pasien Asma Bronchiale yaitu status kesehatan umum perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara bicara, tekanan darah, nadi.Pada B1 didapatkan pola nafas dipsnue dengan irama dan frekuensi meningkat dan dalam,menggunakan otot bantu pernafasan dan cuping hidung.Akibat dari spasme otot bronkus dan adanya oedem pada dindingnya maka pada janin bisa terjadi hipoksia karena suplay o2 ke alveoli menurun.Pada DJJ secara auskultasi akan didapatkan frekuensi yg meningkat saat terjadinya serangan asma pada si ibu bayi.
Thorak Inspeksi dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong ke bawah
disebabkan oleh udara dalam paru-paru susah untuk dikeluarkan karena penyempitan jalan nafas. Frekuensi pernafasan meningkat dan tampak penggunaan otot-otot tambahan.
Pada palpasi dikaji tentang kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus. Pada asma, paru-paru penderita normal karena yang menjadi masalah adalah jalan nafasnya yang menyempit (Laura A.T.;1995).
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah disebabkan karena kontraksi otot polos yang mengakibatkan penyempitan jalan nafas sehingga udara susah dikeluarkan dari paru-paru (Laura A.T.;1995).
Auskultasi terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan wheezing karena sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat (Karnen B .;1994).
Pada palpasi abdomen tinggi fundus uteri (TFU) bisa ditemukan tidak sesuai dengan usia kehamilan dikarenakan komplikasi asma pada kehamilan bisa terjadi pertumbuhan janin terhambat
Masalah Keperawatan yang muncul yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas .
Tujuan dan kriteria hasil[NOC] Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu menunjukkan  peningkatan : 1.Respiratory status : frekuensi nafas,irama pernafasan,kedalaman inspirasi,suara auskultasi nafas normal ,2.Respiratory status : Airway patency adalah frekuensi nafas,  irama pernafasan, kedaman inspirasi dan kemampuan untuk mengeluarkan sekret ,3.Aspiration Control, Dengan kriteria hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) ,Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal) ,Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas.
NIC : Airway Management ·membuuka jalan nafas, mengguanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu ·memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi ·mengidentifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan ·memasang mayo bila perlu ·melakukan fisioterapi dada jika perlu ·Keluarkan sekret dengan batuk atau suction ·Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan ·melakukan suction pada mayo ·memberikan bronkodilator bila perlu ·Memberikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab ·Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. ·Monitor respirasi dan status O2.
HE yang diberikan kepada pasien dengan asma pada kehamilan yaitu tindakan menghindari allergen yang telah diketahui dapat menimbulkan serangan asma,bantuan psikologik penderita harus tenang karena keadaan gelisah dan stress dapat memicu terjadinya serangan asma.mengajarkan pernafasan dalam saat terjadi serangan,dan untuk persalinan disiapkan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan peralatan yg lebih memadai.Disamping itu olahraga pagi seperti jalan kaki juga baik untuk kesehatan.
Kesimpulanya adalah asma merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh hypersensitivitas cabang trakeobronkial terhadap berbagai rangsangan yang akan meninmbulkan obstruksi jalan nafas dan gejala pernafasan mengi dan sesak.Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan nafas sehingga menimbulkan gejala periodik berupa sesak nafas,dada terasa berat,dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil
Sarannya adalah dengan mengetahui apa dan bagaimana penyakit asma maka dapat lebih mengenali cara penanganannya yang terjadi pada saat kehamilan.

Dibuat oleh :
Nama          : Umi Sriwatin
NIM            : 1503011018
Prodi           : S1 Keperawatan STIKES PEMKAB JOMBANG


DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk.2004.Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi : 4.Jakarta : EGC
Noer, Sjaifoellah. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Kesatu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Purwaningsih, Wahyu dan Siti fatmawati.2010.Asuhan Keperawatan Maternitas.Yogyakarta : Nuha Media
Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta : EGC.
Johnson, M.,et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River