Asuhan Keperawatan pada Ibu Hamil
dengan Asma Bronkial
Kasus
ini diambil dengan persepsi pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma
pada setiap penderita tidaklah sama,bahkan pada seorang penderita asma
serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Pengaruh
asma pada ibu dan janin
sangat
bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma,karena ibu dan janin akan
mengalami hipoksia.Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan
memberikan pengaruh buruk pada janin berupa abortus,persalinan prematurdan
berat janin yg tidak sesuai dengan umur
Asma
bronchial merupakan penyakit pernapasan akut,yang disebabkan oleh allergen,
oleh perubahan mencolok pada suhu
lingkungan atau oleh ketegangan emosi. Pada banyak kasus, penyebab actual
mungkin diketahui. Suatu riwayat alergi dalam keluarga dimiliki oleh sekitar 50
% individu dengan asma. Sebagai respons reaktivitas terhadap stimulus, jalan
napas menyempit, sehi pngga mempersulit pernafasan. Manifestasi klinisnya
adalah mengi pada ekspirasi, batuk, sputum yang kental dan dispneu.
Penyakit asma pada kehamilan
kadang-kadang berat atau malah berkurang. Dalam batas wajar penyakit asma yang
berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim melalui
gangguan pertukaran gas oksigen dan carbondioksida. Pengawasan hamil dan
pertolongan persalinan dapat dilakukan dengan operasi.
Asma bronkial merupakan salah satu
penyakit saluran pernapasan yang sering dijumpai pada kehamilan, mempengaruhi
1-4% wanita hamil. Pengaruh keamilan terhadap timbulnya asma tidak selalu sama
pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak
selalu sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurag dari 1/3 penderita
asma kurang membaik dalam kehamilan lebih dari 1/3 akan menetap, kurang 1/3
lagi akan bertambah buruk pada serangan bertambah berat. Biasanya serangan akan
timbul pada usia 24-26 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi ( Bobak,
dkk.2004 ).
Sampai saat ini patogenesis maupun etiologi asma belum diketahui dengan
pasti. Berbagai teori tentang patogenesis telah diajukan, tetapi yang paling
disepakati oleh para ahli adalah yang berdasarkan gangguan saraf autonom dan
sistem imun.
Penyebab asma pada kehamilan antara
lain
zat-zat alergi contohnya tepung, debu, bulu,infeksi saluran
pernapasan,pengaruh udara misalnya terlalu dingin, terlalu panas, factor psikis
misalnya kelelahan, stress.
Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas.
Adanya inflamasi hiperaktivitas saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma
alergi maupun non-alergi. Oleh karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai
keadaan tersebut. Jalur imunologi utama didominasi oleh IgE dan jalur saraf
otonom. Pada jalur IgE , masuknya allergen kedalam tubuh akan diolah oleh APC (Antigen
Presenting Cells), untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan
dikomunikasikan kepada sel T helper (T
penolong). Sel ini akan memberikan instruksi melalui interleukin atau sitokin
agar sel-sel plasma membentuk serta sel- sel radang lain seperti mastosit,
makrofag, sel epitel, eosinifil, neotrofil,
trombosit, serta limfosit untuk mengeluarkan mediator-mediator inflamasi
seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin (LT), platelet activating
factor (PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan lain-lain akan mempengaruhi
organ sasaran menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding vaskuler, edema
saluran napas, infiltrasi sel-sel radang, sekresi mukus, dan fibrosis sub
epitel sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran napas (HSN). Jalur non-
alergi selain merangsang sel inflamasi, juga merangsang sistem saraf otonom
dengan hasil akhir berupa inflamasi dan hiperreaktivitas saluran napas.
Hiperreaktivitas saluran napas diduga sebagian didapat sejak lahir. Berbagai
keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas yaitu : inflamasi
saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis, gangguan intrinsik, dan
obstruksi saluran napas.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim
ahli asma kalifornia tahun 1983 pada 120 kasus asma pada ibu hamil yang
terkontrol baik, tedapat 90% dari penderita yag tidak pernah mendapat serangan
dalam persalinan, 2,2% menderita seragan ringan dan hanya 0,2% yang menderita
asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obatan intravena. Pengaruh asma pada
ibu hamil dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena
ibu dan janin akan kekurangan oksigen dan hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak
segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin yang sering terjadi keguguran,
persalinan premature dan berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan atau
gangguan perumbuhan janin.
Perubahan fungsi paru pada kehamilan meliputi 20% karena peningkatan
kebutuhan oksigen dan metabolisme ibu, 40% peningkatan ventilasi semenit dan peningkatan
tidal volume. Terdapat sejumlah perubahan fisiologik dan struktural
terhadap fungsi paru selama kehamilan. Hiperemia, hipersekresi dan edema mukosa
dan saluran pernapasan merupakan akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Pada
uterus gravid terjadi peningkatan ukuran lingkar perut, diafragma
meninggi, dan semakin dalamnya sudut antar kosta. Wanita hamil mengalami
peningkatan tidal volume, volume residu, serta kapasitas residu fungsional,
penurunan volume balik ekspirasi, sementara kapasitas vital tidak berubah.
Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2 menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34 mmHg,
yang biasanya terlihat pada umur kehamilan 12 minggu. Seperti yang
diperkirakan, frekuensi terjadinya serangan eksaserbasi asma puncaknya pada
umur kehamilan sekitar enam bulan, gejala yang berat biasanya terjadi antara
umur kehamilan 24 minggu - 36 minggu.
Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:
1.
Kontraksi otot pada saluran napas meningkatkan resistensi jalan napas
2.
Peningkatan sekresi mukosa dan obstruksi saluran napas
3.
Hiperinflasi paru dengan peningkatan volume residu
4.
Hiperaktivitas bronkial, yang
diakibatkan oleh histamin,
prostaglandin dan leukotrin.
Efek
kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Perubahan fisiologis, yang
diinduksi oleh kehamilan, tidak membuat wanita hamil lebih rentan terhadap
serangan asma. Asma meningkatkan insiden aborsi dan persalinan premature,
tetapi janin sendiri tidak terpengaruh. Pada kasus-kasus yang berat, asma dapat
mengancam kehidupan wanita hamil. Pada kebanyakan kasus prognosis baik pada ibu
dan janin
Wanita hamil dengan asma berat atau dengan asma yang terkontrol buruk
memiliki resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi kehamilan seperti preeklamsia,
perdarahan rahim dan komplikasi saat melahirkan serta pengaruh buruk pada janin
seperti kematian perinatal ,pertumbuhan janin terhambat,kelainan
congenital,lahir premature,berat badan lahir rendah,dan kekurangan oksigen
Asuhan keperawatan pada ibu hamil
dengan asma bronchial meliputi pengkajian Identitas
klien.Keluhan Utama pasien akan mengeluh
sesak yang bertambah berat pada usia kehamilan 24-36 minggu.
Riwayat
penyakit sekarang
klien dengan serangan asma datang
mencari pertolongan dengan keluhan, terutama sesak napas yang hebat saat aktifitas dan tidak beraktifitas, mendadak kemudian diikuti dengan gejala-gejala
lain yaitu : Wheezing, Penggunaan otot bantu pernapasan, Kelelahan, gangguan
kesadaran, Sianosis serta perubahan tekanan darah. Perlu juga dikaji kondisi
awal terjadinya serangan.
Riwayat
penyakit dahulu
penyakit yang pernah diderita apakah penyakit asma ini baru pertama timbul atau sudah
pernah terjadi dikehamilan yang terdahulu, pada masa-masa
dahulu seperti infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel,
sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asma frekuensi, waktu,
alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan serta riwayat
pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asma (Tjen Danie l, 1991)
Riwayat kesehatan
keluarga pada klien
dengan serangan status asthmatikus perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma
atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena
hipersensitifitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik
oleh lingkungan, (Hood Alsagaf, 1993)
Riwayat
psikososial gangguan
emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi serangan asma baik
ganguan itu berasal dari rumah tangga,
lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja. Seorang yang punya beban hidup yang
berat berpotensial terjadi serangan asma. yatim piatu, ketidakharmonisan
hubungan dengan orang lain sampai ketakutan tidak bisa menjalankan peranan
seperti semula, (Antony Croket, 1997 dan Tjen Daniel, 1991)
Pernafasan
pendek khususnya saat aktivitas, sulit
nafas, dada tertekan, penggunaan oksigen, riwayat pneumonia keluarga,
menggunakan otot bantu pernafasan.
Dada
saat inspeksi dapat dilihat hiperinflasi dengan peninggian diameter ap, gerakan
diafragma minimal, bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi, ronchi, mengi,
saat perkusi ditemukan hipersonor pada area paru, bunyi pekak pada area paru..
Pemeriksaan fisik pada pasien Asma
Bronchiale yaitu status kesehatan
umum perlu dikaji tentang
kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara bicara, tekanan darah, nadi.Pada B1 didapatkan pola nafas
dipsnue dengan irama dan frekuensi meningkat dan dalam,menggunakan otot bantu
pernafasan dan cuping hidung.Akibat dari spasme otot bronkus dan adanya oedem
pada dindingnya maka pada janin bisa terjadi hipoksia karena suplay o2 ke
alveoli menurun.Pada DJJ secara auskultasi akan didapatkan frekuensi yg
meningkat saat terjadinya serangan asma pada si ibu bayi.
Thorak Inspeksi dinding torak tampak mengembang,
diafragma terdorong ke bawah
disebabkan oleh udara dalam
paru-paru susah untuk dikeluarkan karena penyempitan jalan nafas. Frekuensi
pernafasan meningkat dan tampak penggunaan otot-otot tambahan.
Pada palpasi
dikaji tentang kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus. Pada asma, paru-paru
penderita normal karena yang menjadi masalah adalah jalan nafasnya yang
menyempit (Laura A.T.;1995).
Pada perkusi
didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan
rendah disebabkan karena kontraksi otot polos yang mengakibatkan penyempitan
jalan nafas sehingga udara susah dikeluarkan dari paru-paru (Laura A.T.;1995).
Auskultasi terdapat suara
vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4 detik atau lebih
dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan wheezing karena sekresi mucus yang kental dalam
lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat (Karnen B
.;1994).
Pada palpasi abdomen tinggi fundus
uteri (TFU) bisa ditemukan tidak sesuai dengan usia
kehamilan dikarenakan komplikasi asma pada kehamilan bisa terjadi pertumbuhan
janin terhambat
Masalah
Keperawatan yang muncul yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas .
Tujuan dan kriteria hasil[NOC] Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu menunjukkan peningkatan : 1.Respiratory status :
frekuensi nafas,irama pernafasan,kedalaman inspirasi,suara auskultasi nafas
normal ,2.Respiratory status : Airway patency adalah frekuensi nafas, irama pernafasan, kedaman inspirasi dan
kemampuan untuk mengeluarkan sekret ,3.Aspiration Control, Dengan kriteria
hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah,
tidak ada pursed lips) ,Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa
tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal) ,Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat
menghambat jalan nafas.
NIC
: Airway Management ·membuuka jalan nafas, mengguanakan teknik chin lift atau
jaw thrust bila perlu ·memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi ·mengidentifikasi
pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan ·memasang mayo bila perlu
·melakukan fisioterapi dada jika perlu ·Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction ·Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan ·melakukan suction
pada mayo ·memberikan bronkodilator bila perlu ·Memberikan pelembab udara Kassa
basah NaCl Lembab ·Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
·Monitor respirasi dan status O2.
HE
yang diberikan kepada pasien dengan asma pada kehamilan yaitu tindakan
menghindari allergen yang telah diketahui dapat menimbulkan serangan
asma,bantuan psikologik penderita harus tenang karena keadaan gelisah dan
stress dapat memicu terjadinya serangan asma.mengajarkan pernafasan dalam saat
terjadi serangan,dan untuk persalinan disiapkan di fasilitas pelayanan
kesehatan dengan peralatan yg lebih memadai.Disamping itu olahraga pagi seperti
jalan kaki juga baik untuk kesehatan.
Kesimpulanya
adalah asma merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh hypersensitivitas
cabang trakeobronkial terhadap berbagai rangsangan yang akan meninmbulkan
obstruksi jalan nafas dan gejala pernafasan mengi dan sesak.Asma dalam
kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan nafas sehingga menimbulkan
gejala periodik berupa sesak nafas,dada terasa berat,dan batuk yang ditemukan
pada wanita hamil
Sarannya
adalah dengan mengetahui apa dan bagaimana penyakit asma maka dapat lebih
mengenali cara penanganannya yang terjadi pada saat kehamilan.
Dibuat
oleh :
Nama : Umi Sriwatin
NIM : 1503011018
Prodi : S1 Keperawatan STIKES PEMKAB JOMBANG
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, dkk.2004.Buku Ajar Keperawatan Maternitas
Edisi : 4.Jakarta : EGC
Noer, Sjaifoellah. 1996. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Kesatu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Purwaningsih, Wahyu dan Siti
fatmawati.2010.Asuhan Keperawatan Maternitas.Yogyakarta : Nuha Media
Wilkinson, Judith M dan Nancy R.
Ahern.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta : EGC.
Johnson, M.,et all. 2000. Nursing
Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Tidak ada komentar:
Posting Komentar